Kisah Suardi, Kepala Sekolah di Kepulauan Meranti yang Berjuang untuk Pendidikan di Ujung Negeri

Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan / Pendidikan dan Teknologi

Selasa, 26 November 2024 • 2 Menit baca

SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November menjadi momen refleksi bagi kita semua, terutama tentang dedikasi para guru dalam mencerdaskan generasi bangsa. Di balik gemerlap peringatan ini, ada kisah penuh pengorbanan dari para pendidik di daerah terisolir, seperti guru-guru yang bertugas di SDN 10 Lukun, Dusun Keridi, Desa Batin Suir, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Kabut pagi masih menyelimuti, embun menetes di daun-daun, dan mentari belum sepenuhnya muncul. Namun, para guru di SDN 10 Lukun sudah bersiap di tepi pelabuhan kayu. Dengan menaiki kapal kecil, mereka menyeberangi laut dan menyusuri sungai selama satu jam untuk sampai ke sekolah.

Riau museums and galleries

Sesampainya di dermaga desa, perjalanan belum selesai. Mereka harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer melewati jalan berlumpur di antara hutan bakau. Ketika musim banjir pasang tiba, medan semakin berat. Air bisa mencapai batas lutut, membuat para guru harus mengarungi genangan sambil membawa peralatan mengajar.

Sepatu dan sandal jepit kerap menjadi tidak berguna di jalan yang licin dan berlumpur. Untuk itu, para guru memilih berjalan tanpa alas kaki demi memastikan anak-anak di desa ini tetap mendapatkan pendidikan.

"Ini memang berat, tapi pendidikan anak-anak lebih penting. Kami ingin mereka punya masa depan yang lebih baik," ujar salah seorang guru.

Perjuangan ini dilakukan setiap hari dengan penuh keikhlasan. Bagi para guru, keterbatasan infrastruktur dan kondisi geografis yang sulit tidak menjadi penghalang untuk memberikan ilmu kepada generasi muda.

Kisah para guru di SDN 10 Lukun adalah pengingat akan arti sebenarnya dari pengabdian. Mereka menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menunjukkan nilai ketangguhan dan pengorbanan.

Di tengah kesunyian Sungai Suir, terdengar suara mesin pompong yang melaju membawa Suardi, seorang kepala sekolah, bersama empat guru lainnya. Setiap hari, perjalanan itu mereka tempuh dari Pelabuhan Desa Banglas Barat untuk mengajar di SDN 10 Lukun, sebuah sekolah di desa terpencil, Dusun Keridi, Desa Batinsuir, Kecamatan Tebingtinggi Timur. 


#Sumber : https://www.sabangmeraukenews.com/berita/22403/kisah-suardi-kepala-sekolah-di-kepulauan-meranti-yang-berjuang-untuk-pendidikan-di-ujung-negeri.html?fbclid=IwY2xjawGyRJlleHRuA2FlbQIxMQABHfh_dnuGCBXHuiTZZ1DfI-ZymT48pRXEBCxzv10q4S3Ejn0JQc1GPswkpg_aem_B9H_bEtdTfCCwZdmFcO1yw&sfnsn=wiwspwa

Tags: